Pemuja

Biarkan kakiku melangkah mengikut bayangmu
Tidak tergesa atau melambat
Tidak mengganggu tarianmu
Sebab kunikmati gerakan bayangmu

Biarkan lenganku memeluk sejenak
Dan jemariku terbenam di helai rambutmu
Tidak semenit, hanya sedetik
Dan cukup untuk mengindera aromamu

Biarkan bibirku menyebut namamu
Mengeluarkan puja untuk telingamu
Selama apapun yang kau mau
Untuk sempurnakan senyummu

Biarkan pikiranku berkompromi dengan tubuhku
Dan darahku mengalir seirama ingatanku tentangmu
Sebab pemujamu itulah aku

Advertisements

Ku Tak Pernah Memilih

Seperti titik-titik air yang kau sebut hujan. Ku tak pernah memilih hendak jatuh dimana
Apakah untuk menyegarkan kelopak bunga dan dedaunan,
Mengisi ember di sebuah rumah yang atapnya bocor,
Menari bersama anak-anak kehujanan,
Menemani aliran air di sungai,
Pada akhirnya…ku kembali ke laut…ku kembali pada siklus yang sama…berulang

Adakah kau tahu perasaan bebasku, ketika melayang jatuh ke bumi sambil meneriakkan namamu
Karena kau takdirku
Ku tak pernah memilih hendak jatuh dimana

Selamanya Itu

Apakah selamanya itu
ada di hatiku dan hatimu
yang terasa ketika pedihnya cinta merambat pelan pada aliran darahku

Apakah selamanya itu
ada di tempatmu berada kini
dimana tiada bunga bisa kuletakkan atas kenangan yang mendewasakanku

Apakah selamanya itu
ada pada jawaban pertanyaan
jutaan mengapa yang mengambang di atas tangisanku tentang kita

Apakah selamanya itu
ada pada ujung laut di senja?

*dedicated to my beloved father
(inspired from What Part of Forever by Cee Lo Green)

Dua Lelaki

[08.30 – 22.30] Berjabat tangan, apa kabar? Hidupmu jauh dari hidupku. Bercerita…pekerjaan, keluarga, kekasih, cita-cita. Maafkan aku karena pernah memandangmu sebelah mata. Dan menyamakanmu dengan mereka yang lain. Sudah cukup kau buktikan itu…

[23.00 – 02.00] Menyapa, apa kabar? Hidupmu jauh dari hidupku. Bercerita…pekerjaan, keluarga, kekasih, cita-cita. Tertawa dan berjanji. Hening. Lalu keluarlah pengakuanmu. Kukira kau selama ini tegar. Tapi memang tidak ada yang sempurna, begitu juga dirimu. Aku berjanji membantumu berjuang, sejauh kau mau berusaha mendapatkannya…

Meniti Tangga

Hanya 7
Meraih layang-layang di ujung dahan
Dan pada 7 tampak buah mangga ranum
Terulur tangan dan terlupa layang-layang

Cukup 18
Untuk merapatkan genteng dan menyambut hujan
Lalu pada 18 terlihat rumah tetangga, penuh terisi namun tiada penghuni
Maka selamat tinggal genteng yang sabar menunggu

Perlu 29
Demi selangkah lebih maju dari pesaing
Jika pada 29 terlihat kepalanya muncul, sudah siap kaki untuk menendang

Disini sudah 50
Diamlah sejenak untuk biasakan matamu bersyukur pada pemandangan di atas sini
Lalu mulailah ke 49